BISNISREAL.COM, BOGOR – Tiga bulan setelah bencana banjir dan longsor melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera, Aksi Relawan Mandiri Himpunan Alumni IPB (ARM HA-IPB) mencatat telah menjangkau sedikitnya 6.500 warga penyintas di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Intervensi kemanusiaan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada bantuan darurat, tetapi juga menyasar kebutuhan dasar dan pemulihan awal masyarakat terdampak. Bantuan yang disalurkan mencakup paket pangan, tenda darurat, perlengkapan keluarga dan sekolah, instalasi pemipaan air bersih, hingga renovasi rumah ibadah.
Selain itu, ARM HA-IPB bersama para mitra turut menghadirkan dukungan infrastruktur penunjang, seperti pengadaan unit Starlink untuk akses komunikasi, lampu panel surya, pembangunan MCK, serta pembuatan sumur bor dan sumur gali guna memastikan ketersediaan air bersih di lokasi terdampak.
Capaian tersebut dipaparkan dalam Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Monitoring dan Evaluasi Tanggap Darurat Bencana (TDB) Banjir dan Longsor Sumatera yang digelar pada Sabtu (28/2) di Gedung Delta, Sekolah Vokasi IPB University, Bogor. Kegiatan ini dihadiri jajaran pengurus ARM HA-IPB serta perwakilan mitra strategis, termasuk Wahana Muda Indonesia (WMI).
Ketua Umum ARM HA-IPB, Ahmad Husein, menegaskan bahwa keberhasilan menjangkau ribuan warga di 11 kabupaten tidak terlepas dari perencanaan dan koordinasi lintas wilayah yang solid.
“ARM HA-IPB bersama mitra telah berupaya maksimal membantu para penyintas di tiga provinsi terdampak. Upaya ini tidak mungkin terlaksana tanpa perencanaan yang matang serta koordinasi yang intensif di lapangan,” ujarnya.
Selama periode tanggap darurat, ARM HA-IPB dan mitra mengerahkan sedikitnya 161 relawan ke berbagai titik bencana. Secara umum, hampir seluruh program yang dirancang dalam fase tanggap darurat berjalan sesuai rencana, meski menghadapi tantangan geografis dan cuaca ekstrem.
Sekretaris Jenderal ARM HA-IPB, Agus Rusli, menyampaikan apresiasi kepada seluruh mitra yang terlibat, termasuk DPD HA-IPB di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, jajaran DPC di masing-masing wilayah, serta Palang Merah Indonesia Provinsi Sumatera Barat.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal WMI, Noer S. Azhari, memaparkan kontribusi organisasinya dalam fase tanggap darurat, mulai dari operasi pencarian dan pertolongan, layanan medis, hingga distribusi bantuan dasar. Ia menekankan bahwa kolaborasi ARM HA-IPB sangat membantu efektivitas kerja relawan, khususnya di wilayah Aceh Tamiang, Aceh Timur, dan Tapanuli Tengah.
ARM HA-IPB dan WMI juga bersinergi di sejumlah desa binaan, antara lain Lubuk Sidup di Aceh Tamiang, serta Pantai Kera dan Batu Sumbang di Aceh Timur.
Dalam forum Rakornis tersebut, kedua pihak turut mengevaluasi berbagai pembelajaran penting dari pelaksanaan TDB di Sumatera. Salah satu isu strategis yang mengemuka adalah perlunya program pemulihan sektor pertanian, mengingat lahan dan infrastruktur pertanian warga terdampak cukup parah akibat banjir dan longsor.
Ke depan, ARM HA-IPB diharapkan dapat mendokumentasikan pengalaman dan praktik baik selama fase tanggap darurat dalam bentuk kajian tertulis. Langkah ini dinilai penting sebagai referensi strategis untuk memperkuat respons kebencanaan dan program pemulihan ekonomi masyarakat pada masa mendatang.

