BISNISREAL.COM, KARAWANG – Kamis (05/02/2026) Penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam mendorong daya saing nasional, khususnya melalui pengembangan pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan dunia usaha dan industri. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diposisikan sebagai ujung tombak dalam mencetak tenaga kerja terampil, adaptif, dan siap kerja. Namun, tantangan kesenjangan kompetensi antara lulusan pendidikan vokasi dan kebutuhan industri masih menjadi isu yang memerlukan kolaborasi nyata antara dunia pendidikan dan sektor industri.
Sebagai bagian dari kontribusi aktif terhadap agenda tersebut, PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan SDM Indonesia melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama Program Sharp Class bersama SMKN 3 Karawang, yang dilaksanakan pada 26 Januari Program ini merupakan bentuk sinergi konkret antara industri dan institusi pendidikan vokasi dalam menciptakan ekosistem pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pasar kerja saat ini.
Penandatanganan kerja sama ini turut disaksikan oleh Pengawas Pembina SMK Cabang Dinas Pendidikan Wilayah IV, Bapak H. Chaerudin, S.Pd., M.M., sebagai representasi dukungan pemerintah terhadap kolaborasi strategis antara dunia pendidikan dan industri. Lise Tiasanty, S.Pd., M.M., Customer Satisfaction Head Division PT Sharp Electronics Indonesia, menyampaikan bahwa Sharp Class merupakan investasi jangka panjang perusahaan dalam mendukung pembangunan SDM nasional.
“Sharp Class bukan sekadar program pelatihan, tetapi merupakan upaya berkelanjutan Sharp untuk berkontribusi langsung dalam mencetak tenaga kerja vokasi yang kompeten dan siap kerja. Program ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat link and match antara pendidikan vokasi dan kebutuhan industri. Kami percaya bahwa kolaborasi seperti ini sangat penting untuk mempersiapkan generasi muda Indonesia yang mampu bersaing di dunia kerja.”
Program Sharp Class di SMKN 3 Karawang diikuti oleh 25 siswa terpilih dan akan berlangsung selama dua bulan, dengan kurikulum yang dirancang berbasis kebutuhan industri. Materi pembelajaran difokuskan pada penguasaan teori dan praktik di bidang Air Conditioner (AC), yang merupakan salah satu kompetensi teknis dengan permintaan tinggi di sektor elektronik dan jasa layanan. Selain keterampilan teknis, peserta juga dibekali dengan soft skill seperti pelayanan pelanggan, etos kerja, komunikasi profesional, serta dasar kewirausahaan, guna membentuk lulusan yang tidak hanya terampil, tetapi juga memiliki mental siap kerja dan mandiri.
Kepala SMKN 3 Karawang, Dra. Ade Mardiah Hayati, M.Pd., menilai program Sharp Class sebagai model kolaborasi yang ideal dalam mendukung transformasi pendidikan vokasi. “Program Sharp Class memberikan pengalaman belajar yang sangat relevan dengan dunia industri. Materi yang diajarkan, metode praktik, serta keterlibatan langsung tenaga profesional dari Sharp membantu siswa kami memahami standar kerja yang sesungguhnya. Program ini menjadi bukti nyata bagaimana kolaborasi industri dan sekolah dapat meningkatkan kualitas lulusan SMK.”
Program Sharp Class pertama kali diperkenalkan pada tahun 2012 dan hingga kini telah diimplementasikan di dua puluh empat SMK di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Aceh, Malang, Denpasar, Banjarmasin, Padang, dan kota-kota lainnya di pulau Jawa Sumatera dan Sulawesi. Hingga saat ini, 893 siswa telah mengikuti program Sharp Class, dengan 83 lulusan di antaranya bergabung sebagai karyawan Sharp Indonesia, sementara lainnya berkarier di perusahaan nasional, internasional, sertamengembangkan usaha mandiri.
Melalui keberlanjutan Program Sharp Class, Sharp Indonesia berharap dapat terus berperan aktif dalam mendukung program pemerintah di bidang pendidikan vokasi, memperkuat kesiapan tenaga kerja Indonesia, serta mendorong terciptanya SDM unggul yang mampu menjawab tantangan industri masa depan. “Kolaborasi ini akan terus digelar ke lebih banyak SMK di berbagai daerah di Indonesia, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas lagi dan berkelanjutan,” tutup Lise.
Tentang PT SHARP Electronics Indonesia (SEID)
SHARP telah memulai perjalanan panjangnya di Indonesia sejak tahun 1970. Bermula dari PT Yasonta, yang didirikan pada tahun 1970 sebagai perusahaan nasional, pada tahun 1994 SHARP Corporation menjadikan PT Yasonta perusahaan patungan PMA dengan mengakuisisi PT Yasonta dan mengubah namanya menjadi PT SHARP Yasonta Indonesia (SYI). Pada tanggal 1 April 2005, PT SHARP Yasonta Antarnusa (kantor cabang SYI) bergaung menjadi satu dengan PT SHARP Yasonta Indonesia dan sejak Mei 2005 PT SHARP Yasonta Indonesia berubah nama menjadi PT SHARP Electronics Indonesia (SEID) seperti yang dikenal sampai saat ini.
Saat ini, SEID memiliki 23 Kantor Cabang, 8 Sub Cabang, 24 Kantor Servis, 47 Sharp Direct Service Station (SDSS), 517 Sharp Authorized Service Station (SASS), dan 48 Sharp Service Representative (SSR), yang tersebar di seluruh Indonesia, 1 unit SHARP Mobile Service Station (SMSS). Pada 2012 PT SEID memperoleh penghargaan dari rekor bisnis Indonesia sebagai Jaringan Service Center terbanyak.
Sekilas Tentang Sharp Cares
CSR PT Sharp Electronics Indonesia (SEID) bernaung pada SHARP CARES (Creativity, Attention, Recovery, Earth, Sincerity). Creativity (Kreatifitas) mengandung arti sikap kerja yang selalu mencari nilai lebih dan selalu membuat inovasi. Attention (Perhatian), SEID https://id.sharp selalu memberikan perhatian khusus pada masalah sosial di Indonesia, seperti pendidikan, kesehatan, dan lingkungan. Recovery (Pemulihan), SEID di setiap kegiatannya berusaha untuk melakukan hal yang mampu memberikan perbedaan dan memulihkan suatu kondisi bagi masyarakat menuju arah yang lebih baik. Earth (Bumi) yang berarti SEID peduli untuk menjaga Bumi agar dapat terus menopang kelangsungan hidup seluruh makhluk yang tinggal di dalamnya. Sincerity (Ketulusan hati) adalah sikap kerja yang mendasar untuk menghasilkan solusi yang berguna dan juga kebahagian bagi semua orang. SEID memfokuskan program CSR nya pada Pendidikan, Sosial, Kesehatan, dan Lingkungan.

