Green Jobs: Masa Depan Karir di Era Ekonomi Berkelanjutan

Darkiman R, M.Si Darkiman R, M.Si

Peluang Green Jobs di Indonesia di era ekonomi berkelanjutan akan semakin besar seiring dengan besarnya tuntutan menjaga ekosistem yang layak dan sehat dengan mengubah model ekonomi tinggi karbon menjadi ekonomi hijau telah menjadi agenda utama global saat ini. Sejak United Nations Conference on Sustainable Development yang diselenggarakan pada tahun 2012, pendekatan ekonomi hijau yang dimaknai sebagai model ekonomi yang mendukung pembangunan berkelanjutan telah menjadi prioritas global untuk mengatasi berbagai krisis ekologis pada level global.

Indonesia melalui memiliki komitmen yang kuat dalam mengimplementasikan pembangunan yang berbasis pada pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pelestarian lingkungan. Dalam Undang Undang Nomor 59 Tahun 2024 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, komitmen ini dituangkan dalam Agenda Pembangunan yang salah satunya dalam bentuk penerapan Ekonomi Hijau. Hal ini juga sebagai penguatan kebijakan dalam menurunkan emisi gas rumah kaca dan target Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060, transisi berkeadilan, dan praktik untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Penerapan Ekonomi Hijau merupakan langkah strategis dalam menghadapi ancaman krisis ekologi sekaligus memperkuat resiliensi nasional. Transformasi menuju ekonomi hijau ini tidak hanya menuntut perubahan struktural pada sistem ekonomi dan lingkungan, tetapi juga membutuhkan penguatan kapasitas sumber daya manusia yang adaptif dan kompetitif melalui penciptaan dan pengembangan pekerjaan hijau. Dalam konteks ketenagakerjaan, kebijakan ekonomi hijau dioptimalkan untuk menangkap penciptaan pekerjaan baru (job gain) dan memitigasi risiko kehilangan pekerjaan (job loss). Pekerjaan baru tersebut adalah pekerjaan hijau (green jobs) yang mendorong inovasi dan transformasi sektor usaha dari penggunaan teknologi konvensional menjadi berbasis ramah lingkungan, sekaligus membuka peluang kerja di berbagai sektor secara berkelanjutan, inklusif, dan berkualitas. Pekerjaan hijau tidak hanya menciptakan lapangan kerja ramah lingkungan, tetapi juga mendukung prinsip pekerjaan layak.

Jika dulu pekerjaan identik dengan kantor, pabrik, atau teknologi digital, kini ada tren baru yang semakin kuat: Pekerjaan Hijau atau Green Jobs. Perubahan iklim, krisis energi, dan kesadaran global akan pentingnya keberlanjutan membuat banyak negara, termasuk Indonesia, mulai fokus pada pembangunan ekonomi yang ramah lingkungan. Dari sinilah lahir peluang karir baru yang tidak hanya menjanjikan masa depan cerah bagi individu, tetapi juga kontribusi nyata bagi bumi. Artikel ini akan membahas apa itu Green Jobs, mengapa penting, sektor yang sedang berkembang, hingga strategi membangun karir di bidang ini.

Mengapa Green Jobs Semakin Penting?

Ada tiga alasan besar mengapa Green Jobs menjadi sorotan utama dalam dunia karir:

  1. Perubahan Iklim
    Pemanasan global nyata adanya. Suhu bumi meningkat, bencana iklim makin sering terjadi, dan banyak negara terdorong untuk bertransisi menuju energi bersih. Untuk mewujudkan hal ini, dibutuhkan tenaga kerja yang kompeten di bidang energi hijau, efisiensi sumber daya, hingga adaptasi iklim.
  2. Kebijakan Global
    Kesepakatan internasional seperti Paris Agreement dan Sustainable Development Goals (SDGs) mendorong negara-negara untuk mengurangi emisi karbon. Hal ini otomatis menciptakan permintaan baru terhadap pekerjaan yang mendukung target keberlanjutan.
  3. Kesadaran Konsumen
    Masyarakat kini lebih peduli pada produk ramah lingkungan. Dari makanan organik hingga kendaraan listrik, semua membutuhkan tenaga ahli yang mampu menciptakan solusi hijau.

Dengan kata lain, Green Jobs hadir bukan sekadar tren, tetapi keharusan dalam menghadapi krisis iklim sekaligus peluang besar di dunia kerja.

Green Jobs di Indonesia: Peluang Karier Hijau Berdasarkan Jurusan Kuliah

Perkembangan ekonomi hijau (green economy) dan agenda pembangunan berkelanjutan membuka peluang kerja baru yang dikenal sebagai green jobs atau pekerjaan hijau. Green jobs adalah jenis pekerjaan yang secara langsung atau tidak langsung berkontribusi pada perlindungan lingkungan, pengurangan emisi, pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Di Indonesia, peluang karier hijau semakin luas seiring meningkatnya perhatian pemerintah, dunia usaha, dan lembaga internasional terhadap keberlanjutan.

Green Jobs bukan sekadar pekerjaan yang mendukung pelestarian lingkungan. Green Jobs menjadi panggilan bagi mereka yang ingin berkontribusi terhadap keberlanjutan, membuka pintu selebar-lebarnya untuk peluang pekerjaan di Indonesia. Kehadiran Green Jobs bukan hanya sebagai solusi untuk tantangan lingkungan, tetapi juga sebagai katalisator pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Perjalanan Green Jobs di Indonesia

Perjalanan Green Jobs dimulai dari aktivisme pada abad ke-19 hingga munculnya upaya pelembagaan pekerjaan berorientasi lingkungan. Evolusi Green Jobs dapat dilihat dalam peristiwa penting, seperti Protokol Kyoto pada tahun 1997. Perjanjian internasional ini menjadi tonggak penting yang memicu komitmen global untuk keberlanjutan (Spanne, 2022). Selain itu, Perjanjian Paris tahun 2015 dan Sustainable Development Goals (SDGs) PBB pada tahun 2030 memberikan landasan yang kuat untuk penciptaan Green Jobs.

Di Indonesia, Green Jobs muncul karena adanya kebutuhan mendesak untuk mengatasi dan membentuk ketahanan atas perubahan iklim, yang salah satunya ditandai dengan transisi energi. Bicara tentang membentuk ketahanan atas perubahan iklim, Indonesia berada di peringkat teratas dalam ketahanan iklim global, dengan risiko tinggi terhadap berbagai jenis banjir dan panas ekstrem. Intensitas bahaya ini diperkirakan akan meningkat seiring perubahan iklim. Tanpa adaptasi yang efektif, dampak yang dirasakan setiap penduduk juga akan meningkat. Sebagai contoh, jumlah penduduk yang terpapar oleh banjir ekstrem dapat meningkat sebesar 1,4 juta pada tahun 2035—2044 (World Bank, 2021).

Definisi Green Jobs dari ILO dan UNESCO

ILO dan UNESCO mendefinisikan Green Jobs dengan menekankan kontribusi Green Jobs pada pelestarian lingkungan. Namun, di Indonesia, Green Jobs tidak hanya memberi kesempatan untuk kita agar bertanggung jawab terhadap lingkungan, tetapi juga sebagai sarana untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Selebihnya, laporan dari World Economic Forum (WEF) yang berjudul The Future of Jobs Report 2023 menyoroti bahwa transisi berkelanjutan, implementasi ESG, dan adaptasi iklim telah mendorong perkembangan Green Jobs secara signifikan. Di Indonesia, pengembangan Green Jobs berjalan seiring dengan diterapkannya ekonomi hijau (green economy), yang kini menjadi salah satu prioritas nasional dalam rencana pembangunan rendah karbon. Menurut Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Indonesia memiliki potensi untuk menawarkan sekitar tiga juta peluang Green Jobs pada tahun 2060.

Peluang Lowongan Pekerjaan di Green Jobs

Peluang lowongan pekerjaan di Green Jobs semakin berkembang seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan lingkungan. Di tahun 2019 saja, estimasi jumlah tenaga kerja di subsektor energi terbarukan mencapai 32.980 tenaga kerja. Proyeksi ini menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan, dengan kebutuhan tenaga kerja diperkirakan mencapai 770.000 pada tahun 2040 dan bahkan 1,1 juta pada 2050.

Green Jobs di Indonesia melibatkan sektor-sektor yang beragam, dari administrasi hingga teknologi, dari pertanian hingga manufaktur.

Bagi mahasiswa dan lulusan baru, memahami hubungan antara jurusan kuliah dengan peluang green jobs menjadi langkah penting untuk mempersiapkan diri menghadapi pasar kerja masa depan. Artikel ini mengulas berdasarkan beberapa latar belakang akademik yang umum di Indonesia, sekaligus menunjukkan bagaimana pengetahuan yang dimiliki dapat diterapkan di berbagai sektor berkelanjutan.

  • Jurusan Pertanian dan Peluang Green Jobs

Lulusan pertanian memiliki kemampuan yang sangat relevan untuk mendukung pertanian berkelanjutan, pengelolaan sumber daya alam, hingga mitigasi perubahan iklim. Pada tingkat entry level, mereka dapat berperan sebagai analis kualitas tanah dan air (soil & water quality analyst), teknisi pertanian berkelanjutan (sustainable farming technician), asisten pemantauan keanekaragaman hayati (biodiversity monitoring assistant), atau pengumpul data lingkungan (environmental data collector).

Seiring pengalaman bertambah, pathway karier dapat berkembang menjadi spesialis keberlanjutan pertanian (sustainability specialist), konsultan ekonomi sirkular untuk pemanfaatan limbah biomassa, atau analis efisiensi sumber daya di sektor agroindustri. Pada level manajerial, lulusan pertanian berpotensi memimpin sebagai farm sustainability managersupply chain sustainability manager, hingga posisi strategis seperti chief sustainability officer (CSO) di perusahaan berbasis sumber daya alam.

  • Jurusan Teknik Lingkungan dan Peluang Green Jobs

Lulusan teknik lingkungan memiliki keahlian teknis yang sangat dibutuhkan dalam transisi menuju energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan efisiensi energi. Pada entry level, mereka dapat bekerja sebagai insinyur lingkungan (environmental engineer), petugas manajemen limbah, analis kualitas air, teknisi pengendalian polusi udara, atau staf lapangan energi terbarukan.

Karier ini dapat berkembang menjadi spesialis efisiensi energi, konsultan AMDAL/EIA, hingga konsultan ekonomi sirkular. Pada level senior, lulusan teknik lingkungan banyak menduduki posisi environmental manager, kepala departemen keberlanjutan, atau manajer proyek transisi energi.

  • Jurusan Biologi dan Peluang Green Jobs

Lulusan biologi memiliki basis ilmu yang kuat untuk konservasi alam, pemantauan keanekaragaman hayati, hingga edukasi lingkungan. Di awal karier, peluangnya meliputi asisten riset biodiversitas, petugas lapangan konservasi, teknisi laboratorium sampel lingkungan, atau pemandu ekowisata yang berbasis edukasi.

Karier hijau ini dapat berkembang menjadi biolog konservasi, ekolog satwa liar, atau edukator lingkungan. Pada tingkat senior, mereka dapat memimpin program konservasi sebagai biodiversity program manager, kepala konservasi, hingga direktur riset lingkungan di lembaga swasta atau publik.

  • Jurusan Ekonomi dan Manajemen serta Peluang Green Jobs

Lulusan ekonomi dan manajemen memiliki peran strategis dalam mendukung praktik bisnis berkelanjutan dan pembiayaan hijau. Pada entry level, mereka dapat bekerja sebagai staf CSR, analis data keberlanjutan, staf pelaporan ESG, asisten akuntansi karbon, atau trainee rantai pasok berkelanjutan.

Karier ini dapat berkembang menjadi konsultan keberlanjutan, spesialis keuangan hijau (green finance specialist), atau analis rantai pasok berkelanjutan. Pada level senior, posisi yang umum adalah manajer ESG, kepala keberlanjutan korporasi, hingga chief sustainability officer (CSO) yang mengarahkan strategi keberlanjutan perusahaan.

Green jobs bukan hanya peluang karier, tetapi juga sarana untuk berkontribusi pada tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Melalui pekerjaan hijau, individu dapat berperan langsung dalam menjaga lingkungan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dan membangun ekonomi yang tangguh terhadap perubahan iklim.

Green jobs membuka jalan bagi berbagai latar belakang akademik untuk berkontribusi pada masa depan yang lebih berkelanjutan. Peluangnya mencakup sektor pertanian, teknik lingkungan, biologi, ekonomi, dan masih banyak lagi. Setiap jurusan memiliki potensi untuk terlibat dalam rantai nilai hijau, mulai dari posisi teknis hingga kepemimpinan strategis.

 

* Artikel ditulis dari berbagai sumber referensi disajikan oleh Darkiman Ruminta, S.Pt. M.Si

Dosen Ekonomi dan Bisnis UBSI, Trainer & Auditor ISPO dan Konsultan Manajemen Bisnis Keberlanjutan