BISNISREAL.COM, JAKARTA — Menjelang tidur malam, Jumat (5/9/2025), saya membuka kembali sebuah buku lama yang terasa begitu segar: Keteladanan Bung Hatta karya M. Sayuti Dt. Rajo Pangulu. Lembar demi lembar mengingatkan pada kondisi negeri ini hari-hari ini, terutama soal para pejabat yang, sayangnya, kerap terlihat jauh dari nurani dan prinsip moral.
Bung Hatta menekankan, manusia perlu terus mengasah sikap dan jiwa. Dua hal inilah yang menjadi dasar agar seseorang dapat tumbuh jujur. Menurut beliau, kejujuran adalah jalan selamat dari cara hidup yang semrawut—alias ngawur.
Kini, “ngawur” itu seolah hadir nyata dalam sejumlah kebijakan publik. Pajak dipungut dengan berbagai alasan, namun hasilnya sebagian justru dinikmati lewat fasilitas dan tunjangan pejabat, bukan sepenuhnya untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Kadang terlintas bayangan, seandainya Bung Hatta hadir dan berpidato di hadapan para pejabat kita hari ini, mungkin yang terdengar bukan gemuruh tepuk tangan, melainkan deras air mata.
Menegakkan Karakter, Menjaga Bangsa
Bagi Bung Hatta, menjadi manusia merdeka berarti menyadari bagaimana keberadaan kita membawa manfaat bagi bangsa. Itulah sebabnya, karakter selalu ia tekankan dalam hidup dan perjuangannya.
Dalam buku tersebut, ada satu pesan penting yang layak diingat, khususnya oleh mereka yang memegang amanah negara agar tidak kehilangan arah dan tujuan:
“Orang bisa cerdas dan pintar sekali. Tetapi kalau tidak disertai karakter yang baik dan luhur, maka percuma.”
Mengingat Lagi Arti Karakter
Karakter adalah fondasi moral dan etis yang memandu cara manusia berpikir, merasa, dan bertindak. Dalam konteks Maulid Nabi Muhammad SAW, karakter erat kaitannya dengan kejujuran, kesungguhan dalam bekerja, dan kekuatan untuk menata kehidupan umat manusia.
Ibarat dunia komputer, kecerdasan dan kepintaran adalah perangkat lunaknya (software), sementara karakter adalah sistem operasi (operating system) yang menopangnya. Tanpa sistem operasi yang kuat dan stabil, perangkat lunak secanggih apa pun tidak akan berjalan optimal.
Pesan Bung Hatta jelas: karakter adalah sesuatu yang mahal, sekaligus mutlak.
Sayangnya, inilah yang kini terasa luntur di banyak pejabat. Maka tak heran bila ketimpangan, ketidakadilan, dan kepura-puraan masih kerap mewarnai wajah republik ini.
Saatnya berubah. Selama napas masih diberikan, tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki wajah bangsa.
Mas Imam Nawawi

