BISNISREAL.COM, Industri perhiasan Indonesia kian menunjukkan tajinya di pasar internasional. Berbasis kreativitas desain, keterampilan perajin, serta inovasi berkelanjutan, sektor ini tak sekadar menjual komoditas, tetapi juga menghadirkan nilai estetika, budaya, dan identitas bangsa.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) perhiasan agar mampu menembus pasar global. Salah satu langkah konkret dilakukan melalui fasilitasi partisipasi pada ajang bergengsi Jakarta International Jewellery Fair yang digelar pada 12–15 Februari 2026 di Assembly Hall, Jakarta Convention Center.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pemerintah berkomitmen menghadirkan kebijakan strategis untuk memperkuat industri perhiasan nasional, baik dari sisi produksi maupun ekspor.
Menurutnya, perluasan akses pasar, peningkatan kapasitas pelaku usaha, hingga dorongan ekspor menjadi fokus utama agar industri perhiasan Indonesia semakin kompetitif di tengah dinamika pasar global.
Sepanjang 2025, melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA), berbagai program telah dijalankan. Di antaranya fasilitasi pameran, program e-Smart IKM, workshop ekspor, dukungan Program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN), hingga bimbingan teknis bagi pelaku usaha.
Memasuki 2026, Kemenperin akan melanjutkan dukungan melalui program restrukturisasi mesin dan peralatan, sekaligus mempercepat adopsi transformasi industri 4.0 untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
Dari sisi kinerja ekspor, industri perhiasan mencatatkan hasil yang impresif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor kumulatif perhiasan dan barang berharga periode Januari–November 2025 mencapai USD 8,4 miliar. Angka ini melonjak 65,29 persen dibandingkan total ekspor sepanjang 2024 yang sebesar USD 5,5 miliar.
Dirjen IKMA Reni Yanita turut mengapresiasi peran Asosiasi Pengusaha Emas dan Permata Indonesia (APEPI) yang konsisten menghadirkan pameran berskala nasional dan internasional. Menurutnya, ajang ini menjadi ruang strategis bagi produsen, desainer, distributor, hingga IKM untuk memperluas jejaring dan mengikuti tren industri.
Pada JIJF 2026, Kemenperin bersama APEPI memfasilitasi 10 IKM perhiasan terkurasi dari berbagai daerah seperti Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, DKI Jakarta, dan Banten. Produk unggulan yang ditampilkan antara lain perhiasan mutiara dan batu mulia khas Indonesia.
Menariknya, selama pameran berlangsung, 10 IKM binaan tersebut berhasil membukukan penjualan mencapai Rp463.829.000. Capaian ini membuktikan bahwa IKM perhiasan nasional memiliki daya saing kuat di panggung nasional maupun internasional.
Pemerintah optimistis, sinergi antara pelaku usaha dan regulator akan memperkokoh struktur industri perhiasan nasional sekaligus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia.

