BISNISREAL.COM, JAKARTA — Peran pemuda Indonesia kembali ditegaskan sebagai aktor utama penentu arah masa depan bangsa. Penegasan tersebut mengemuka dalam sesi Upgrading Dai pada rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) IX Pemuda Hidayatullah yang digelar di Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Dalam forum tersebut, pengusaha nasional sekaligus CEO Anata Development Group, Mazz Reza Pranata, hadir sebagai pembicara dengan materi bertajuk Peran Strategis Pemuda Indonesia. Ia mengulas berbagai tantangan global sekaligus peluang besar yang tengah dan akan dihadapi Indonesia dalam satu hingga tiga dekade mendatang.
Reza membuka pemaparannya dengan menempatkan Sumpah Pemuda sebagai fondasi ideologis gerakan kepemudaan nasional.
“Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa adalah titik temu visi kolektif yang menyatukan pemuda lintas latar belakang. Dari sinilah identitas nasional Indonesia dibangun dan terus dirawat hingga hari ini,” ujarnya.
Ia memaparkan proyeksi masa depan Indonesia yang menunjukkan potensi demografi dan ekonomi yang sangat besar. Pada 2026, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 40,3 juta penduduk berusia di bawah 30 tahun, dengan pendapatan per kapita mencapai 5.520 dolar AS.
Memasuki 2030, jumlah konsumen diproyeksikan menembus 135 juta jiwa, dengan 71 persen populasi tinggal di kawasan urban yang menyumbang sekitar 86 persen produk domestik bruto (PDB). Bahkan pada 2050, Indonesia diproyeksikan menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia.
Namun, menurut Reza, bonus demografi tersebut hanya akan bermakna jika pemuda dibekali keterampilan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Ia memetakan sejumlah keahlian yang paling dibutuhkan menuju 2030, mulai dari literasi digital, pemasaran digital, analisis data, kecerdasan buatan, keamanan siber, hingga soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, dan berpikir kritis.
“Berbagai keterampilan ini menjadi prasyarat untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045,” jelasnya.
Perubahan zaman juga ditandai dengan disrupsi besar dalam dunia bisnis. Reza menyoroti pergeseran model bisnis konvensional yang kini banyak digantikan oleh platform digital.
Transformasi ini melahirkan fenomena lonely economy, yakni pola ekonomi baru yang muncul akibat gaya hidup individual dan digitalisasi yang semakin masif.
“Ciri utamanya antara lain meningkatnya jumlah rumah tangga yang hidup sendiri, koneksi digital sebagai komoditas, serta perubahan pola relasi sosial,” terangnya.
Fenomena tersebut memunculkan peluang usaha baru, mulai dari layanan pengantaran, pendampingan berbasis kecerdasan buatan, hingga ekonomi hewan peliharaan. Secara global, nilai pasar pet economy dunia diperkirakan mencapai 243,5 miliar dolar AS pada 2025, dengan pertumbuhan sekitar 10 persen per tahun.

Di Indonesia, nilai pasar perawatan hewan diprediksi menembus Rp33–40 triliun pada 2025 dan berpotensi meningkat pesat dalam satu dekade mendatang.
Dalam konteks itu, Reza menekankan pentingnya pola pikir kewirausahaan di kalangan pemuda, khususnya dai muda. Menurutnya, kewirausahaan bukan semata soal bisnis, melainkan cara pandang dalam membaca dan merespons perubahan.
“Entrepreneurship is a mindset that allows you to see opportunity everywhere,” tegasnya.
Ia menambahkan, kemampuan membaca peluang harus berjalan seiring dengan nilai dan tujuan yang jelas. Bagi pemuda Islam, kewirausahaan harus berlandaskan etika, kebermanfaatan sosial, serta semangat pengabdian.
“Dengan begitu, peran pemuda seperti Pemuda Hidayatullah bukan hanya sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga penjaga nilai kebangsaan dan moralitas umat,” tandasnya.
Reza menegaskan, masa depan Indonesia sangat bergantung pada kesiapan generasi mudanya dalam merespons perubahan global tanpa kehilangan jati diri keislaman dan keindonesiaan.
“Pemuda harus mampu menjadi jembatan antara nilai dan inovasi, antara dakwah dan pembangunan, demi Indonesia yang berdaya saing dan berkeadaban,” pungkasnya.

