Like, pujian, dan lenyapnya berkah ilmu di era media sosial
Oleh: Lukman Priyandono*
BISNISREAL.COM, BANDUNG — Di era serba digital yang melesat cepat ini, hampir tak ada lagi ruang privat yang benar-benar luput dari jangkauan kamera ponsel. Setiap momen—dari secangkir kopi pagi, tumpukan buku di meja kerja, hingga pemandangan gedung kampus—seolah memiliki nilai jual tersendiri di linimasa media sosial.
Kita dengan mudah menyaksikan unggahan tentang seminar internasional, foto saat menyerahkan bantuan sosial, atau cuplikan pengabdian di desa terpencil. Semuanya tampak indah, heroik, dan patut diapresiasi.
Namun di balik gemerlap layar dan deru like, tersembunyi sebuah pertanyaan yang jarang kita ajukan kepada diri sendiri: untuk apa sebenarnya semua ini? Apakah kita masih bekerja, meneliti, dan mengajar karena panggilan amanah, atau perlahan-lahan kita mulai menjadikan pengakuan sosial sebagai panglima?
Inilah yang disebut sebagai riya’ akademik—sebuah penyakit hati yang halus, menyusup tanpa suara, dan mampu melunturkan pahala dari amal yang sejatinya mulia.
Ikhlas yang Tergerus
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Bayyinah ayat 5:
“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama…”
Ayat ini mengingatkan bahwa setiap amal, sekecil apa pun, harus bertumpu pada keikhlasan. Termasuk dalam dunia akademik. Menuntut ilmu, mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat adalah bagian dari ibadah—amal jariyah yang pahalanya tak terputus. Namun riya’ mampu memutus rantai pahala itu seperti gunting memotong benang sutra.
Riya’ akademik tidak selalu datang dalam bentuk pamer yang vulgar. Ia lebih sering hadir sebagai bisikan halus: saat kita lebih bersemangat memotret kegiatan pengabdian daripada merasakan getaran haru saat membantu masyarakat.
Ia hadir ketika jumlah like dan komentar pujian di unggahan tentang riset kita terasa lebih menggembirakan daripada dampak nyata riset itu bagi ilmu pengetahuan. Ia juga menyusup ketika kita merasa kecewa jika sebuah ide brilian tidak mendapat sambutan meriah dari rekan sejawat.
Tiga Bahaya yang Mengintai
Pertama, riya’ merusak nilai ibadah secara langsung. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah tidak menerima amal yang dicampuri dengan riya’ sekecil apa pun. Kedua, riya’ menyebabkan kehampaan spiritual.
Hati menjadi gelisah, terus bergantung pada pujian dan kritik orang lain. Kebahagiaan semu yang datang dari validasi publik cepat sirna, menyisakan kekosongan. Ketiga, pada akhirnya, kualitas keilmuan dan pengabdian kita tergerus. Fokus bergeser dari substansi ke
kemasan. Yang terpenting bukanlah apakah penelitian itu memecahkan masalah umat, melainkan apakah ia terlihat “instagramable” dan mendapat sorotan.
Muhasabah untuk Diri Sendiri
Marilah sejenak kita berhenti. Matikan notifikasi ponsel. Dan tanyakan pada hati nurani yang paling jujur:
- Untuk apa saya menyelesaikan publikasi ilmiah ini? Apakah semata untuk kenaikan jabatan, atau karena saya sungguh ingin berkontribusi bagi kemajuan bangsa?
- Apakah saya akan merasa tidak bergairah jika kerja keras saya tidak mendapat pujian dari atasan atau rekan sejawat?
- Ketika berdiri di depan kelas, apakah niat utama saya adalah mentransfer ilmu dan membentuk karakter, atau sekadar memenuhi beban SKS?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan, melainkan untuk menyadarkan. Bukan pula larangan untuk mempromosikan karya. Di era keterbukaan informasi, promosi dan visibilitas adalah kebutuhan.
Namun yang harus kita jaga adalah niat: jadikan media sosial sebagai wasilah (sarana), bukan tujuan. Gunakan panggung digital untuk menyebarluaskan manfaat, menjalin kolaborasi, dan menginspirasi—bukan untuk memanen pujian.
Kembali pada Hakikat Ilmu
Kita, para akademisi, adalah pewaris para nabi. Tugas kita bukanlah sekadar mengejar angka kredit atau indeks sitasi, melainkan mencerdaskan kehidupan bangsa dengan ketulusan.
Ilmu yang diajarkan dengan ikhlas akan menjadi ilmu yang berkah. Ia akan mengalir manfaatnya kepada mahasiswa, masyarakat, bahkan hingga ke generasi yang belum lahir.
Mari kita perbaiki niat setiap kali masuk ruang kuliah, menyalakan laptop untuk menulis, atau turun ke desa untuk mengabdi. Karena Allah tidak melihat pada rupa dan harta kita, tetapi pada hati dan amal kita.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari riya’, sum’ah, dan ujub. Dan semoga setiap tetes ilmu yang kita tebarkan menjadi amal jariyah yang kelak menerangi jalan menuju-Nya. [ ]
*Penulis adalah mahasiswa Program Studi Doktor Manajemen Universitas Islam Bandung dan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda.
Dok foto: Pribadi

