Ketika Bulan Madu Menjadi Jalan Dakwah Kemanusiaan: Kisah Pasangan Eropa di Lokasi Bencana Aceh

Ketika Bulan Madu Menjadi Jalan Dakwah Kemanusiaan

INFOFILANTROPI.COM — Bagi sebagian besar pasangan, bulan madu identik dengan kebahagiaan, keindahan, dan ketenangan. Namun tidak demikian bagi Mr. Adriano dan istrinya Mushida. Pasangan asal Eropa ini justru menjadikan momen awal pernikahan mereka sebagai jalan dakwah kemanusiaan, menyusuri wilayah konflik dan daerah terdampak bencana.

Pada Sabtu, 17 Januari 2026, BMH Sumatera Utara kedatangan pasangan yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu kemanusiaan global. Mr. Adriano, seorang donatur BMH yang selama ini aktif menggalang dana qurban dari komunitas Muslim di Jerman, hadir langsung ke lokasi banjir Aceh Tamiang untuk memastikan bantuan sampai kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

Sebelum tiba di Sumatera Utara, pasangan ini bahkan telah mengunjungi Suriah—sebuah wilayah yang selama bertahun-tahun dilanda konflik. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari komitmen mereka untuk melihat langsung realitas penderitaan umat manusia, sekaligus menguatkan solidaritas lintas bangsa.

Di Aceh Tamiang, bersama tim BMH, mereka menyusuri kawasan bawah Jembatan Kuala Simpang, tempat sebagian warga masih bertahan akibat rumah yang rusak atau belum layak huni pasca-banjir. Banjir besar yang melanda wilayah tersebut menyisakan dampak berkepanjangan. Hingga hampir dua bulan berlalu, sejumlah sekolah dan fasilitas umum masih belum pulih.

Kegiatan berbagi yang dilakukan BMH bersama Mr. Adriano dan Mushida meliputi penyaluran paket sembako serta Al-Qur’an. Namun lebih dari itu, mereka juga menghadirkan kehangatan dan perhatian yang tulus. Kepada anak-anak dan warga, Mr. Adriano menyampaikan pesan agar tetap mengingat Allah, menjaga semangat hidup, dan tidak melupakan perjuangan rakyat Palestina.

Dengan suara lantang penuh keyakinan, ia berkata, “This is Qur’an number one, free… free… Palestina…” Sebuah kalimat sederhana yang sarat makna, menggambarkan keterikatan antara iman, kemanusiaan, dan keadilan global.

Muhammad Nuh, Kepala Perwakilan BMH Sumatera Utara, menilai kunjungan ini sebagai teladan nyata bagi dunia filantropi. Menurutnya, kehadiran pasangan ini menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan tidak selalu harus menunggu kelapangan, melainkan bisa dimulai dari niat dan keberanian untuk hadir.

“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih. Semoga langkah ini menjadi inspirasi bagi masyarakat luas untuk turut berbagi dan peduli kepada saudara-saudara kita yang terdampak bencana,” ungkapnya.

BMH terus mengajak masyarakat untuk bersama-sama memperkuat kepedulian sosial, karena setiap uluran tangan, sekecil apa pun, dapat menjadi harapan besar bagi mereka yang sedang diuji.